Aisyah memiliki pribadi yang terhormat dan senantiasa menjaga
kehormatan yang dimilikinya, baik di hadapan manusia, lebih-lebih di
hadapan Allah. Ia tidak ingin menjerumuskan dirinya dalam kehinaan
akhlak dan kenistaan nafsu. Ia merasa cukup dengan
rezeki yang sedikit
dan tidak pernah mengeluh serta meminta-minta, sebagaimana sifat luhur
ayahnya, Abu Bakar.
Selain menjaga kehormatan diri sendiri, Siti Aisyah juga sangat
menghormati orang lain. Salah satu sifatnya adalah tidak mau
membicarakan kejelekan orang lain. Ribuan riwayat dari Aisyah tak satu
pun dari riwayat itu berisikan pelecehan atau penghinaan terhadap
seseorang. Adapun perselisihan antar istri Rasulullah dan cekcok mulut
di antara mereka merupakan sifat dan karakteristik alami seorang
perempuan. Namun, bagaimana Aisyah menyebutkan keistimewaan dan
kelebihan masing-masing madunya dengan lapang dada dan luas hati,
disertai dengan perkataan yang terpuji.
Di sisi lain, Aisyah sangat membenci dipuji atau disanjung saat hadir
di depan khalayak. Sebuah sikap yang berbalik 180 derajat dengan
kebanyakan para tokoh dan public figure pada zaman sekarang,
yang justru mereka suka dengan sanjungan dan menjadikan sanjungan kepada
para tokoh dan figur (pejabat) sebagai bagian dari keharusan
protokoler. Yang disanjung memang mengharapkan hal itu, dan yang
menyanjung ingin mencari muka di hadapan para khalayak yang hadir,
terutama di hadapan tokoh yang disanjung itu sendiri. Demikianlah
kenyataan dari fenomena kehidupan sosial modern pada zaman sekarang.
Maka dapat dipahami bahwa Aisyah memang berasal dari keluarga yang
terhormat, ditambah lagi dengan pendidikan langsung dari Rasulullah yang
menyebabkan dirinya menjadi terhormat. Selain ia selalu menjaga
kehormatan dirinya dan keluarganya, ia juga selalu menjaga kehormatan
orang lain.
Aisyah juga benci dipuji. Sesungguhnya, memuji dan dipuji bukanlah
hal yang dilarang, bahkan hal itu bisa menjadi kebaikan dan dianjurkan,
asalkan disampaikan dengan tulus, tidak ada rekayasa dan niat riya’
dihati pemujinya. Dan bagi orang yang dipujinya, ia tidak semata-mata
mengharapkan munculnya pujian itu, serta pujian tersebut tidak
menjadikan dirinya sombong. Aisyah menghindari hal-hal yang dapat
menyebabkan dirinya sombong atau tinggi hati.
Sumber:
Arief, Nurhaeni. Engkau Bidadari Para Penghuni Surga, Kisah Teladan Wanita Saleha. Kafila: Yogyakarta: 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar